IMAM QIRA’AT PERTAMA

 

IMAM NAFI AL-MADANI(L. 70 H - W. 169 H)

 

فأما الكريم السر في الطيب نافع * فداك الذي اختار المدينة منزلا

وقالون عيى ثم عثمان ورشهم * بحُبته المجد الرفيع تائلا

 

Artinya: "Imam Nafi' adalah seorang mulya yang memiliki karamah selalu mengeluarkan wewangian dari sekujur tubuhnya. Beliau memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya. Kedua perawinya adalah Imam Isa bin Mina, yang diberi julukan oleh gurunya dengan Qalun- yang berarti baik- dan Imam Utsman yang diberi julukan oleh gurunya dengan Warsy."

 

Pada masa Nabi, Madinah merupakan pusat peradaban danImu pengetahuan. Ia merupakan pusat madrasah pengajaran qira'at Al-Qur'an. Dari sanalah lahir generasi sahabat yang ahli dalam bidang qira'at Al-Qur'an, seperti Salim maula (budak yang di merdekakan) AbiHudzaifah (w. 12 H), Mu'adz bin Jabal (w. 33 H), Ubay bin Ka'ab (w.20 H), Abdullah bin Mas'ud (w. 32 H), Ustman bin Affan (w. 35 H),dan Ali bin Abi Thalib (w. 40 H). Nabi bersabda: "Ambillah Al-Qur'andari empat orang; Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abi Hudzaifah,Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab".

 

Setelah Nabi wafat, pengajaran qira'at Al-Qur'an tetap berlangsung dan dilaksanakan oleh para Sahabat. Dari para Sahabat inilah para Tabi'in memperoleh ilmu dan bacaan Al-Qur'an secara mutawatir dari Nabi. Di antara Tabi'in yang mahir dan ahli dalam bidang Al-Qur'an dan qira'at adalah Muadz bin al-Harits yang dikenal dengan sebutan Muadz al-Qari' (w. 63 H), Said bin al-Musayyab (w.94 H), Urwah bin al-Zubair (w. 95 H) Umar bin Abdul Aziz (w. 101H), Atha' bin Yasar (w. 103 H), Salim bin Abdullah bin Umar (w. 106H), Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), Muslim bin Jundub (w. 110 H).Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H), Muhammad bin Muslinbin Syihabuddin al-Zuhri (w. 124 H) dan Zaid bin Aslam (w. 130 H).

 

Dari pendidikan dan pengajaran sejumlah Tabi'in di atas, muncullah generasi Tabi'in selanjutnya yang mempunyai perhatian yang besar terhadap Al-Qur'an dan qira’at, hingga kemudian dikenal oleh masyarakat Madinah sebagai ahli qira’at. Salah satunya adalah Imam Nafi' al-Madani.

 

Dalam literatur ilmu Al-Qur'an khususnya ilmu qira'at, Imam Nafi' menempati urutan pertama sebagai Imam Qiraa'at, karena beliau tinggal di kota Nabi Muhammad Madinah. Meskipun secara urutan generasi (Thabaqat) -sebagaimana diungkapkan oleh Al-Dzahabi- beliau berada di posisi ke-empat. Hal ini tidak lain karena untuk memuliakan kota Nabi Muhammad Saw, dan orang yang terpilih menjadi Imam qira'at di sana, Namun tidak dipungkiri bahwa dalam literatur vang lain, Imam Ibnu Amir berada diurutan pertama, karena beliau memiliki sanad yang tertinggi dan berada urutan generasi (Thabaqat) ke-tiga, selain itu di perkuat pula dengan kenyataan bahwa beliau keturunan Arab.

 

Biografi Imam Nafi'

 

Nama lengkap beliau adalah Nafi' bin Abdurrahman bin Abua Nu'aim al-Madani. Dikenal dengan panggilan (kuniyah) Abu Ruwaim atau Abu al-Hasan. Apabila dipanggil dengan salah satu panggilan tersebut, maka beliau akan merespon.

 

Imam Nafi' lahir sekitar tahun 70 hijriah, pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (w. 86 H), khalifah dari Bani Umayyah. Beliau adalah salah satu Imam qira'at sab’ah (tujuh) yang berasal dari Asbahan (Iran).

 

Imam yang menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Al-Qur'an ini memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang sangat tinggi, tak heran jika beliau menjadi rujukan utama dalam bidang qira'at di Madinah setelah generasi Tabi'in. Dari segi fisik, beliau memiliki tipikal kulit yang cenderung hitam, namun wajah beliau memancarkan aura yang menawan karena cahaya Al-Qur'an dan budi pekerti yang luhur penuh wibawa.

 

Perjalanan Intelektual Imam Nafi' Imam Nafi' adalah generasi (Thabaqat) ke-empat dari kalangan Tabi'in yang banyak berguru kepada ulama pada masanya, bahkan terbilang paling banyak, yaitu tujuh puluh guru dari kalangan para Tabi'in, dan dari sekian guru tersebut tidak semuanya tercatat secara rapi dalam sejarah, hanya beberapa nama saja yang tercatat dan terkenal sebagai guru imam Nafi' dalam bidang ilmu qira'at Al-Qur'an.

 

Imam Nafi' dalam pengakuannya -sebagaimana yang diceritakan oleh Musa bin Thariq- berkata bahwa dia berguru kepada tujuh puluh Tabi'in, di antaranya adalah Muslim bin Jundub (w. 110 H) Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H), Yazid bin Ruman (w.120H), Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124 H), Imam AbuJa'far (w. 130 H) dan Syaibah bin Nashah (w. 130 H). 

 

Dalam disiplin ilmu hadits, dia terhitung perawi yang sedikit meriwayatkan hadits Nabi bahkan sebagian ulama menganggapnya lemah dari segi periwayatan. Namun hal tersebut tidak mengurangi kredibilitas dan kapabilitas beliau sebagai ahli qira’at. Karena hal ini justru menunjukkan konsistensinya dalam menyelami lautan ilmu qira'at.

 

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa dari segi periwayatan hadits, Imam Nafi' termasuk perawi yang lemah (Layyin), sementara dalam qira'at (huruf Al-Qur'an) para ulama sepakat bahwa beliau adalah panutan (hujjah). Namun kendati demikian, beliau tetap meriwayatkan beberapa hadits dari beberapa ulama di antaranya: Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H ), Amir bin Abdullah (w.124 H) dan Abi Zinad (w. 130 H).

 

Sementara murid-murid beliau yang meriwayatkan hadis darinya adalah: Kharijah bin Mus'ab (w. 168 H), al-Laits bin Saad 6v175 H), Ibnu Wahb (w. 177 H), Asyhab dan Khalid bin Makhlad (w. 213H) dan lain-lain.

 

Selama perjalanan hidup, Imam Nafi' adalah salah satu dari sekian banyak ulama yang mencurahkan waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur'an dan qira'at. Beliau mengajarkan Al-Qur'an beserta qira'at dalam kurun waktu lebih dari 70 tahun. Kemampuannya dalam qira'at dan pengetahuannya yang sangat luas dalam bidang wajah-wajah qira'at dan atsar para Imam terdahulu di negaranya, menjadikan beliau sebagai seorang Imam ahli Al-Qur'an yang dikenal luas.

 

Otentifikasi Sanad Imam Nafi'

 

Secara transmisi sanad, qira'at Imam Nafi' dapat dinyatakan sebagai qira'at yang sah dan dapat dipertanggung jawabkankeshahihannya. Hal ini dibuktikan dengan transimisi sanad para gurunya vang tersambung kepada Nabi Muhammad Saw,. Pemaparannya sebagai berikut :

 

1. Abu Ja'far, Yazid bin al-Qa’qa' (w. 130 H) belajar kepada (1)Abdullah bin Ayyasy. (2) Abu Hurairah. (3) Abdullah bin Abbas. Ketiganya belajar kepada Ubay bin Ka'ab. Sementara itu, Abu Hurairahdan Ibnu Abbas belajar kepada Zaid bin Tsabit. Adapun Ubay dan Zaid menerima bacaan dari Nabi Muhammad Saw.

 

2. Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H) belajar kepada AbuHurairah, Ibnu Abbas dan Abdullah bin Ayyasy, mereka bertiga belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw,.

 

3. Syaibah bin Nashah (w. 130 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyash, la belajar kepada Ubay bin Ka'ab dan mendengar bacaan dari Umar binKhattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad Saw,.

 

4. Muslim bin Jundub (w. 110 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyasy, la belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw,.

 

5. Yazid bin Ruman (w. 120 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyasy, ia belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw.

 

6. Muhammad Syihabuddin bin al-Zuhri (w. 124 H) belajar kepada Said al-Musayyab, ia belajar kepada Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.

 

7. Shaleh bin Khuwat, ia belajar kepada Abu Hurairah.

 

Metode Pengajaran Imam Nafi'

 

Satu hal yang paling pokok dalam pengajaran Al-Qur'an adalah talaqqi kepada seorang guru yang berkompeten. Sebab tanpa talaqqi kepada seorang guru, mustahil seorang mampu membaca dan mempraktekkan bacaan Al-Qur'an dengan baik dan benar. Demikian pula yang dilakukan oleh para Imam Qira’at kepada murid-muridnya.

 

Dalam metode pengajaran qira’at Al-Qur'an, para Imam membacakan qira'atnya terlebih dahulu kepada murid-muridnya. Hal ini tidak lain karena mengikuti Nabi Saw,. -sebagaimana perintah Allah- dalam metode pengajaran yang diterapkan kepada para sahabat. Demikian pula Jibril yang membacakan terlebih dahulu kepada Rasulullah, hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Surat al-Qiyamah:18,

 

فإذا قرأناه فاقبغ فزانه

 

Artinya: "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilahbacaan itu".

 

Untuk metode pengajaran gira'at, Imam Nafi' membacakan terlebih dahulu kepada para muridnya sebanyak 30 ayat. Setiap murid yang datang belajar kapada Imam Nafi' maka akan menerima bacaan yang sama, yakni tiga puluh ayat setiap kali pertemuan. Untuk sistem giliran siapa yang berhak maju lebih dulu, Imam Nafi' memberlakukan sistem siapa cepat dia yang dapat, siapa yang rajin maka dia yang berhak maju belajar terlebih dahulu. Dalam hal ini, beliau tidak melihatkondisi sang murid, apakah dia sibuk atau punya hajat yang lain. Berbeda dengan Imam Abdurrahman al-Sullami dan Imam Ashim yang mendahulukan orang-orang pasar (pedagang), sebab beliau tidak mau menahan kebutuhan hidupnya.

 

Suatu ketika, Imam Warsy meminta Imam Nafi' untuk mengajarkan qira'at, kemudian beliau menyuruhnya untuk menginap dan tinggal di masjid. Pada saat para muridnya berkumpul, beliau bertanya kepada Imam Warsy: "Apakah kamu menginap di masjid?". Imam Warsy menjawab: "iya". Kemudian beliau berkata: “Kamu lebih berhak lebih dulu untuk membaca (belajar)".

 

Dalam penyampaian materi qira'at, Imam Nafi' mengajarkan seluruh ragam qira’at (yang pernah dipelajarinya) kepada murid-muridnya.

 

Imam Abu Dihyah al-Ma'la bin Dihyah berkata: "Aku membawa kitab milik al-Laist bin Saad (w. 175 H) untuk belajar kitab tersebut kepada Imam Nafi', namun ternyata beliau justru mengajarkan seluruh ragam qira'at kepada murid-muridnya". Kemudian saya bertanya kepadanya: "Wahai Abu Ruwaim, apakah Anda mengajarkan kepada murid-muridmu seluruh ragam qira'at?. Beliau menjawab dengan ta’jub: "Subhan Allah al-Adzim, apakah saya melarang jiwa ini untuk mendapatkan pahala Al-Qur'an?, saya akan mengajarkan mereka seluruh ragam qira'at, bahkan apabila ada orang datang memohon kepadaku untuk belajar huruf (bacaan) ku, maka aku akan ajarkan dia.

 

Metode Imam Nafi' dalam merusmuskan Qira'at

 

Dalam ilmu qira'at terdapat istilah "ikhtiar", yaitu melakukan ijtihad untuk memilih qira'at dari beberapa guru dan menetapkan qira'at tertentu untuk dijadikan qira'atnya sendiri. Imam Nafi pun melakukan seleksi qira'at (bukan penyeleksian antara salah dan benar), yaitu mengambil qira'at yang sama di antara para gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda. Hasil dari penyeleksian tersebut dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi' yang kemudian dikenal luas oleh generasi selanjutnya sebagai qira'at Imam Nafi'.

 

Imam Ishal-Musayyibi menceritakan dari Imam Nafi’:"Aku telah belajar kepada beberapa Tabi'in, kemudian melakukan penyeleksian. Jika terdapat dua qira’at yang sama dari kedua guru, maka saya ambil untuk dijadikan qira’at. Jika terdapat satu qira’at yang tidak sama dengan guru yang lain, maka aku tinggalkan (tidak dijadikan qira'at). Hasil penyeleksian tersebutlah yang aku jadikan pijakan dalam menyusun qira'at ini".

 

Karamah Imam Nafi'

 

Imam Nafi' adalah seorang ahli Al-Qur'an yang dianugerahi Allah beberapa karamah. Di antaranya adalah semerbak aroma harum yang keluar dari lisannya dan wajah berseri-seri yang memancarkan aura yang menyenangkan. Semerbak keharuman yang keluar dari lisannya bukan berasal dari minyak yang beliau pakai, tetapi merupakan anugerah yang Allah berikan kepadanya lewat mimpi bertemu Rasulullah.

 

Diceritakan bahwa jika beliau berbicara, maka terciumlah semerbak harum minyak misk yang keluar dari lisannya. Ketika ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah anda memakai minyak wangi jika hendak mengajar?". Imam Nafi' menjawab: "Aku tidak pernah mendekati minyak wangi apalagi menyentuhnya. Suatu ketika aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau membaca Al-Qur'an persis di depan lisanku. Sejak saat itulah semerbak harum keluar dari lisanku."

 

Karamah lain yang dimiliki Imam Nafi adalah wajah yang selalu berseri-seri dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Musayyibi berkata, ketika ditanyakan kepada Imam Nafi' tentang hal tersebut (wajahnya yang selalu berseri-seri), beliau menjawab: "Bagaimana aku tidak berseri-seri, sementara Rasulullah menyalamiku dalam mimpi dankepada beliau aku membaca Al-Qur'an."

 

Komentar Ulama tentang Imam Nafi'

 

Terdapat banyak komentar dari para ulama, baik yang semasa maupun yang hidup setelahnya perihal pribadi dan qira'at Imam Nafi', Namun, komentar-komentar yang ditujukan kepada beliau mengarah pada satu kesimpulan, yaitu penilaian positif, yang dalam istilah ilmu hadits disebut ta'dil. Di antara komentar-komentar tersebut ialah:

 

Imam Ibnu Mujahid bin Jabar (w. 103 H) berkata: "Imam Nafi' adalah orang yang eksis dalam bidang qira'at setelah periode Tabi'in di Madinah. Beliau sangat mahir dan teliti dalam bidang wajah-wajah qira'at dengan mengikuti jejak para Imam terdahulu di Negaranya".

 

Imam Sa'id bin Mansur (w. 227 H) berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata: "Bacaan ahli Madinah adalah sunnah (yang dipilih). Kemudian ditanyakan kepada dia: "Apakah yang dimaksud (bacaan ahli Madinah) adalah bacaan Imam Nafi"?" diapun menjawab: Ya. 

 

Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (w. 290 H) berkata: saya bertanya kepada bapakku (Imam Ahmad) “Bacaan siapakah yang bapak sukai?". Dia menjawab: "Bacaan ahli Madinah (Imam Nafi')". Selain itu, bacaan siapa yang bapak sukai? Dia menjawab: Qira'at Imam'Ashim.

 

Komentar tentang Imam Nafi' tidak hanya datang dari orang lain, namun juga datang dari anak tirinya yang sekaligus menjadi perawinya yang terkenal, yaitu: Imam Qalun. Dia berkata: Imam Nafi' termasuk orang-orang yang memliki akhlak yang baik dan sangat bagus bacaanya, zuhud serta dermawan. Beliau menjadi Imam di masjid Nabi selama 60 tahun.

 

Diceritakan bahwa saat menjelang ajal, anak-anak beliau berkumpul meminta wasiat kepadanya. Beliau berkata: "Betakwalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman". 

 

Murid-murid Imam Nafi'

 

Kealiman dan keistiqamahan dalam membimbing masyarakat Madinah, mengantarkan Imam Nafi' menjadi maha guru yang disenangi dan disegani oleh para muridnya. Hal ini ditandai dengan banyaknya murid beliau yang berasal dari berbagai Negara seperti Mesir, Syam, Madinah dan lainnya. Di antara murid beliau yang terkenal adalah: Imam Malik bin Anas, Imam Laits bin Sa'ad, Abi Amr bin al-Ala', Isabin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz dan kedua putra gurunya (Imam Ja'far), yaitu Ismail dan Ya'qub. Namun, di antara sekian banyak murid Imam Nafi', yang paling terkenal dan kemudian menjadi perawinya adalah Imam Qalun dan Imam Warsy.

 

Setelah mengabdikan jiwa dan raga untuk berkhidmah kepadaAl-Qur'an, Imam Nafi' dipanggil untuk menghadap Tuhannya pada tahun 169 H di Madinah. 

 

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk meneladaninya. Amin.

 

Sumber : Mengarungi Samudra kemuliaan 10 Imam Qira’at. 

IMAM NAFI AL-MADANI(L. 70 H - W. 169 H)


IMAM QIRA’AT PERTAMA

 

IMAM NAFI AL-MADANI(L. 70 H - W. 169 H)

 

فأما الكريم السر في الطيب نافع * فداك الذي اختار المدينة منزلا

وقالون عيى ثم عثمان ورشهم * بحُبته المجد الرفيع تائلا

 

Artinya: "Imam Nafi' adalah seorang mulya yang memiliki karamah selalu mengeluarkan wewangian dari sekujur tubuhnya. Beliau memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya. Kedua perawinya adalah Imam Isa bin Mina, yang diberi julukan oleh gurunya dengan Qalun- yang berarti baik- dan Imam Utsman yang diberi julukan oleh gurunya dengan Warsy."

 

Pada masa Nabi, Madinah merupakan pusat peradaban danImu pengetahuan. Ia merupakan pusat madrasah pengajaran qira'at Al-Qur'an. Dari sanalah lahir generasi sahabat yang ahli dalam bidang qira'at Al-Qur'an, seperti Salim maula (budak yang di merdekakan) AbiHudzaifah (w. 12 H), Mu'adz bin Jabal (w. 33 H), Ubay bin Ka'ab (w.20 H), Abdullah bin Mas'ud (w. 32 H), Ustman bin Affan (w. 35 H),dan Ali bin Abi Thalib (w. 40 H). Nabi bersabda: "Ambillah Al-Qur'andari empat orang; Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abi Hudzaifah,Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab".

 

Setelah Nabi wafat, pengajaran qira'at Al-Qur'an tetap berlangsung dan dilaksanakan oleh para Sahabat. Dari para Sahabat inilah para Tabi'in memperoleh ilmu dan bacaan Al-Qur'an secara mutawatir dari Nabi. Di antara Tabi'in yang mahir dan ahli dalam bidang Al-Qur'an dan qira'at adalah Muadz bin al-Harits yang dikenal dengan sebutan Muadz al-Qari' (w. 63 H), Said bin al-Musayyab (w.94 H), Urwah bin al-Zubair (w. 95 H) Umar bin Abdul Aziz (w. 101H), Atha' bin Yasar (w. 103 H), Salim bin Abdullah bin Umar (w. 106H), Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), Muslim bin Jundub (w. 110 H).Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H), Muhammad bin Muslinbin Syihabuddin al-Zuhri (w. 124 H) dan Zaid bin Aslam (w. 130 H).

 

Dari pendidikan dan pengajaran sejumlah Tabi'in di atas, muncullah generasi Tabi'in selanjutnya yang mempunyai perhatian yang besar terhadap Al-Qur'an dan qira’at, hingga kemudian dikenal oleh masyarakat Madinah sebagai ahli qira’at. Salah satunya adalah Imam Nafi' al-Madani.

 

Dalam literatur ilmu Al-Qur'an khususnya ilmu qira'at, Imam Nafi' menempati urutan pertama sebagai Imam Qiraa'at, karena beliau tinggal di kota Nabi Muhammad Madinah. Meskipun secara urutan generasi (Thabaqat) -sebagaimana diungkapkan oleh Al-Dzahabi- beliau berada di posisi ke-empat. Hal ini tidak lain karena untuk memuliakan kota Nabi Muhammad Saw, dan orang yang terpilih menjadi Imam qira'at di sana, Namun tidak dipungkiri bahwa dalam literatur vang lain, Imam Ibnu Amir berada diurutan pertama, karena beliau memiliki sanad yang tertinggi dan berada urutan generasi (Thabaqat) ke-tiga, selain itu di perkuat pula dengan kenyataan bahwa beliau keturunan Arab.

 

Biografi Imam Nafi'

 

Nama lengkap beliau adalah Nafi' bin Abdurrahman bin Abua Nu'aim al-Madani. Dikenal dengan panggilan (kuniyah) Abu Ruwaim atau Abu al-Hasan. Apabila dipanggil dengan salah satu panggilan tersebut, maka beliau akan merespon.

 

Imam Nafi' lahir sekitar tahun 70 hijriah, pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (w. 86 H), khalifah dari Bani Umayyah. Beliau adalah salah satu Imam qira'at sab’ah (tujuh) yang berasal dari Asbahan (Iran).

 

Imam yang menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Al-Qur'an ini memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang sangat tinggi, tak heran jika beliau menjadi rujukan utama dalam bidang qira'at di Madinah setelah generasi Tabi'in. Dari segi fisik, beliau memiliki tipikal kulit yang cenderung hitam, namun wajah beliau memancarkan aura yang menawan karena cahaya Al-Qur'an dan budi pekerti yang luhur penuh wibawa.

 

Perjalanan Intelektual Imam Nafi' Imam Nafi' adalah generasi (Thabaqat) ke-empat dari kalangan Tabi'in yang banyak berguru kepada ulama pada masanya, bahkan terbilang paling banyak, yaitu tujuh puluh guru dari kalangan para Tabi'in, dan dari sekian guru tersebut tidak semuanya tercatat secara rapi dalam sejarah, hanya beberapa nama saja yang tercatat dan terkenal sebagai guru imam Nafi' dalam bidang ilmu qira'at Al-Qur'an.

 

Imam Nafi' dalam pengakuannya -sebagaimana yang diceritakan oleh Musa bin Thariq- berkata bahwa dia berguru kepada tujuh puluh Tabi'in, di antaranya adalah Muslim bin Jundub (w. 110 H) Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H), Yazid bin Ruman (w.120H), Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124 H), Imam AbuJa'far (w. 130 H) dan Syaibah bin Nashah (w. 130 H). 

 

Dalam disiplin ilmu hadits, dia terhitung perawi yang sedikit meriwayatkan hadits Nabi bahkan sebagian ulama menganggapnya lemah dari segi periwayatan. Namun hal tersebut tidak mengurangi kredibilitas dan kapabilitas beliau sebagai ahli qira’at. Karena hal ini justru menunjukkan konsistensinya dalam menyelami lautan ilmu qira'at.

 

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa dari segi periwayatan hadits, Imam Nafi' termasuk perawi yang lemah (Layyin), sementara dalam qira'at (huruf Al-Qur'an) para ulama sepakat bahwa beliau adalah panutan (hujjah). Namun kendati demikian, beliau tetap meriwayatkan beberapa hadits dari beberapa ulama di antaranya: Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H ), Amir bin Abdullah (w.124 H) dan Abi Zinad (w. 130 H).

 

Sementara murid-murid beliau yang meriwayatkan hadis darinya adalah: Kharijah bin Mus'ab (w. 168 H), al-Laits bin Saad 6v175 H), Ibnu Wahb (w. 177 H), Asyhab dan Khalid bin Makhlad (w. 213H) dan lain-lain.

 

Selama perjalanan hidup, Imam Nafi' adalah salah satu dari sekian banyak ulama yang mencurahkan waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur'an dan qira'at. Beliau mengajarkan Al-Qur'an beserta qira'at dalam kurun waktu lebih dari 70 tahun. Kemampuannya dalam qira'at dan pengetahuannya yang sangat luas dalam bidang wajah-wajah qira'at dan atsar para Imam terdahulu di negaranya, menjadikan beliau sebagai seorang Imam ahli Al-Qur'an yang dikenal luas.

 

Otentifikasi Sanad Imam Nafi'

 

Secara transmisi sanad, qira'at Imam Nafi' dapat dinyatakan sebagai qira'at yang sah dan dapat dipertanggung jawabkankeshahihannya. Hal ini dibuktikan dengan transimisi sanad para gurunya vang tersambung kepada Nabi Muhammad Saw,. Pemaparannya sebagai berikut :

 

1. Abu Ja'far, Yazid bin al-Qa’qa' (w. 130 H) belajar kepada (1)Abdullah bin Ayyasy. (2) Abu Hurairah. (3) Abdullah bin Abbas. Ketiganya belajar kepada Ubay bin Ka'ab. Sementara itu, Abu Hurairahdan Ibnu Abbas belajar kepada Zaid bin Tsabit. Adapun Ubay dan Zaid menerima bacaan dari Nabi Muhammad Saw.

 

2. Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj (w. 117 H) belajar kepada AbuHurairah, Ibnu Abbas dan Abdullah bin Ayyasy, mereka bertiga belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw,.

 

3. Syaibah bin Nashah (w. 130 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyash, la belajar kepada Ubay bin Ka'ab dan mendengar bacaan dari Umar binKhattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad Saw,.

 

4. Muslim bin Jundub (w. 110 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyasy, la belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw,.

 

5. Yazid bin Ruman (w. 120 H) belajar kepada Abdullah bin Ayyasy, ia belajar kepada Ubay bin Ka'ab dari Nabi Muhammad Saw.

 

6. Muhammad Syihabuddin bin al-Zuhri (w. 124 H) belajar kepada Said al-Musayyab, ia belajar kepada Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.

 

7. Shaleh bin Khuwat, ia belajar kepada Abu Hurairah.

 

Metode Pengajaran Imam Nafi'

 

Satu hal yang paling pokok dalam pengajaran Al-Qur'an adalah talaqqi kepada seorang guru yang berkompeten. Sebab tanpa talaqqi kepada seorang guru, mustahil seorang mampu membaca dan mempraktekkan bacaan Al-Qur'an dengan baik dan benar. Demikian pula yang dilakukan oleh para Imam Qira’at kepada murid-muridnya.

 

Dalam metode pengajaran qira’at Al-Qur'an, para Imam membacakan qira'atnya terlebih dahulu kepada murid-muridnya. Hal ini tidak lain karena mengikuti Nabi Saw,. -sebagaimana perintah Allah- dalam metode pengajaran yang diterapkan kepada para sahabat. Demikian pula Jibril yang membacakan terlebih dahulu kepada Rasulullah, hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Surat al-Qiyamah:18,

 

فإذا قرأناه فاقبغ فزانه

 

Artinya: "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilahbacaan itu".

 

Untuk metode pengajaran gira'at, Imam Nafi' membacakan terlebih dahulu kepada para muridnya sebanyak 30 ayat. Setiap murid yang datang belajar kapada Imam Nafi' maka akan menerima bacaan yang sama, yakni tiga puluh ayat setiap kali pertemuan. Untuk sistem giliran siapa yang berhak maju lebih dulu, Imam Nafi' memberlakukan sistem siapa cepat dia yang dapat, siapa yang rajin maka dia yang berhak maju belajar terlebih dahulu. Dalam hal ini, beliau tidak melihatkondisi sang murid, apakah dia sibuk atau punya hajat yang lain. Berbeda dengan Imam Abdurrahman al-Sullami dan Imam Ashim yang mendahulukan orang-orang pasar (pedagang), sebab beliau tidak mau menahan kebutuhan hidupnya.

 

Suatu ketika, Imam Warsy meminta Imam Nafi' untuk mengajarkan qira'at, kemudian beliau menyuruhnya untuk menginap dan tinggal di masjid. Pada saat para muridnya berkumpul, beliau bertanya kepada Imam Warsy: "Apakah kamu menginap di masjid?". Imam Warsy menjawab: "iya". Kemudian beliau berkata: “Kamu lebih berhak lebih dulu untuk membaca (belajar)".

 

Dalam penyampaian materi qira'at, Imam Nafi' mengajarkan seluruh ragam qira’at (yang pernah dipelajarinya) kepada murid-muridnya.

 

Imam Abu Dihyah al-Ma'la bin Dihyah berkata: "Aku membawa kitab milik al-Laist bin Saad (w. 175 H) untuk belajar kitab tersebut kepada Imam Nafi', namun ternyata beliau justru mengajarkan seluruh ragam qira'at kepada murid-muridnya". Kemudian saya bertanya kepadanya: "Wahai Abu Ruwaim, apakah Anda mengajarkan kepada murid-muridmu seluruh ragam qira'at?. Beliau menjawab dengan ta’jub: "Subhan Allah al-Adzim, apakah saya melarang jiwa ini untuk mendapatkan pahala Al-Qur'an?, saya akan mengajarkan mereka seluruh ragam qira'at, bahkan apabila ada orang datang memohon kepadaku untuk belajar huruf (bacaan) ku, maka aku akan ajarkan dia.

 

Metode Imam Nafi' dalam merusmuskan Qira'at

 

Dalam ilmu qira'at terdapat istilah "ikhtiar", yaitu melakukan ijtihad untuk memilih qira'at dari beberapa guru dan menetapkan qira'at tertentu untuk dijadikan qira'atnya sendiri. Imam Nafi pun melakukan seleksi qira'at (bukan penyeleksian antara salah dan benar), yaitu mengambil qira'at yang sama di antara para gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda. Hasil dari penyeleksian tersebut dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi' yang kemudian dikenal luas oleh generasi selanjutnya sebagai qira'at Imam Nafi'.

 

Imam Ishal-Musayyibi menceritakan dari Imam Nafi’:"Aku telah belajar kepada beberapa Tabi'in, kemudian melakukan penyeleksian. Jika terdapat dua qira’at yang sama dari kedua guru, maka saya ambil untuk dijadikan qira’at. Jika terdapat satu qira’at yang tidak sama dengan guru yang lain, maka aku tinggalkan (tidak dijadikan qira'at). Hasil penyeleksian tersebutlah yang aku jadikan pijakan dalam menyusun qira'at ini".

 

Karamah Imam Nafi'

 

Imam Nafi' adalah seorang ahli Al-Qur'an yang dianugerahi Allah beberapa karamah. Di antaranya adalah semerbak aroma harum yang keluar dari lisannya dan wajah berseri-seri yang memancarkan aura yang menyenangkan. Semerbak keharuman yang keluar dari lisannya bukan berasal dari minyak yang beliau pakai, tetapi merupakan anugerah yang Allah berikan kepadanya lewat mimpi bertemu Rasulullah.

 

Diceritakan bahwa jika beliau berbicara, maka terciumlah semerbak harum minyak misk yang keluar dari lisannya. Ketika ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah anda memakai minyak wangi jika hendak mengajar?". Imam Nafi' menjawab: "Aku tidak pernah mendekati minyak wangi apalagi menyentuhnya. Suatu ketika aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau membaca Al-Qur'an persis di depan lisanku. Sejak saat itulah semerbak harum keluar dari lisanku."

 

Karamah lain yang dimiliki Imam Nafi adalah wajah yang selalu berseri-seri dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Musayyibi berkata, ketika ditanyakan kepada Imam Nafi' tentang hal tersebut (wajahnya yang selalu berseri-seri), beliau menjawab: "Bagaimana aku tidak berseri-seri, sementara Rasulullah menyalamiku dalam mimpi dankepada beliau aku membaca Al-Qur'an."

 

Komentar Ulama tentang Imam Nafi'

 

Terdapat banyak komentar dari para ulama, baik yang semasa maupun yang hidup setelahnya perihal pribadi dan qira'at Imam Nafi', Namun, komentar-komentar yang ditujukan kepada beliau mengarah pada satu kesimpulan, yaitu penilaian positif, yang dalam istilah ilmu hadits disebut ta'dil. Di antara komentar-komentar tersebut ialah:

 

Imam Ibnu Mujahid bin Jabar (w. 103 H) berkata: "Imam Nafi' adalah orang yang eksis dalam bidang qira'at setelah periode Tabi'in di Madinah. Beliau sangat mahir dan teliti dalam bidang wajah-wajah qira'at dengan mengikuti jejak para Imam terdahulu di Negaranya".

 

Imam Sa'id bin Mansur (w. 227 H) berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata: "Bacaan ahli Madinah adalah sunnah (yang dipilih). Kemudian ditanyakan kepada dia: "Apakah yang dimaksud (bacaan ahli Madinah) adalah bacaan Imam Nafi"?" diapun menjawab: Ya. 

 

Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (w. 290 H) berkata: saya bertanya kepada bapakku (Imam Ahmad) “Bacaan siapakah yang bapak sukai?". Dia menjawab: "Bacaan ahli Madinah (Imam Nafi')". Selain itu, bacaan siapa yang bapak sukai? Dia menjawab: Qira'at Imam'Ashim.

 

Komentar tentang Imam Nafi' tidak hanya datang dari orang lain, namun juga datang dari anak tirinya yang sekaligus menjadi perawinya yang terkenal, yaitu: Imam Qalun. Dia berkata: Imam Nafi' termasuk orang-orang yang memliki akhlak yang baik dan sangat bagus bacaanya, zuhud serta dermawan. Beliau menjadi Imam di masjid Nabi selama 60 tahun.

 

Diceritakan bahwa saat menjelang ajal, anak-anak beliau berkumpul meminta wasiat kepadanya. Beliau berkata: "Betakwalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman". 

 

Murid-murid Imam Nafi'

 

Kealiman dan keistiqamahan dalam membimbing masyarakat Madinah, mengantarkan Imam Nafi' menjadi maha guru yang disenangi dan disegani oleh para muridnya. Hal ini ditandai dengan banyaknya murid beliau yang berasal dari berbagai Negara seperti Mesir, Syam, Madinah dan lainnya. Di antara murid beliau yang terkenal adalah: Imam Malik bin Anas, Imam Laits bin Sa'ad, Abi Amr bin al-Ala', Isabin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz dan kedua putra gurunya (Imam Ja'far), yaitu Ismail dan Ya'qub. Namun, di antara sekian banyak murid Imam Nafi', yang paling terkenal dan kemudian menjadi perawinya adalah Imam Qalun dan Imam Warsy.

 

Setelah mengabdikan jiwa dan raga untuk berkhidmah kepadaAl-Qur'an, Imam Nafi' dipanggil untuk menghadap Tuhannya pada tahun 169 H di Madinah. 

 

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk meneladaninya. Amin.

 

Sumber : Mengarungi Samudra kemuliaan 10 Imam Qira’at. 

Tidak ada komentar