DARI uraian dan penjelasan di atas kita mengerti bahwa ikhlas berarti bebas lepasnya hati dari segala macam belenggu yang sifatnya keduniawian. Tidak mengharapkan pujian dari sesama manusia karena toh merupakansesama makhluk yang lemah. Tidak gentar menghadapi cercaan dan komentar miring dari sesama manusia. Pokoknya orang ikhlas senantiasa terfokus pada penilaian Allah SWT semata. Yang sangat ia takutkan adalah bila Allah ta'ala tidak ridho atas upayanya untuk menjadi orang yang ikhlas.


Ya, memang seperti itulah pengertian ikhlas. Akan tetapi, hati-hati pula memahaminya. Jangan sampai salah duga. Menerima segala sesuatu dengan ikhlas, melakukan sesuatu dengan ikhlas, bukan berarti tak boleh disertai dengan perasaan sedih sedikit pun. Begini penjelasannya. Sebagai contoh, saat Anda mengalami kehilangan. Baik kehilangan barang kesayangan, kehilangan uang, maupun kehilangan sanak keluarga yang sangat Anda sayangi. Rasanya pasti sedih dan sakit di hati. Rasa penyesalan kemudian dapat muncul pula mengiringi proses kehilangan tersebut. Wajar dan manusiawi adanya.


Akan tetapi, penyesalan dan kesedihan yang semacam itu tidak akan berlangsung lama bagi orang yang ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak ikhlas, penyesalan dan kesedihannya akan berlarut-larut tak tentu waktu.


Begitulah kenyataannya. Seberapa dalam kita bersedih dan seberapa lama kita menyesal bisa menjadi salah satu tolok ukur tingkat keikhlasan kita atas hal/peristiwa buruk yang menimpa kita tersebut. Makin besakeikhlasan kita, makin cepat pula kita pulih dari kesedihan dan penyesalan. Demikian sebaliknya. Makin kecil keikhlasan yang kita miliki, makin lama juga kita sanggup pulih dari keterpurukan.


Kalau ada orang yang sama sekali tak merasakan kesedihan atas kehilangan yang barusan menimpanya, bukan berarti dia sangat ikhlas Iho. Kesedihan dan penyesalan merupakan rasa yang wajar menyergap

bilamana hal/peristiwa buruk menimpa kita. Jadi, kalaua ada orang yang sama sekali tak merasakan kesedihan dan penyesalan di saat-saat seperti itu, justru perlu dipertanyakan kondisi emosionalnya; apakah emosinya masih normal ataukah tidak? 

IKHLASPUN BOLEH BERSEDIH


DARI uraian dan penjelasan di atas kita mengerti bahwa ikhlas berarti bebas lepasnya hati dari segala macam belenggu yang sifatnya keduniawian. Tidak mengharapkan pujian dari sesama manusia karena toh merupakansesama makhluk yang lemah. Tidak gentar menghadapi cercaan dan komentar miring dari sesama manusia. Pokoknya orang ikhlas senantiasa terfokus pada penilaian Allah SWT semata. Yang sangat ia takutkan adalah bila Allah ta'ala tidak ridho atas upayanya untuk menjadi orang yang ikhlas.


Ya, memang seperti itulah pengertian ikhlas. Akan tetapi, hati-hati pula memahaminya. Jangan sampai salah duga. Menerima segala sesuatu dengan ikhlas, melakukan sesuatu dengan ikhlas, bukan berarti tak boleh disertai dengan perasaan sedih sedikit pun. Begini penjelasannya. Sebagai contoh, saat Anda mengalami kehilangan. Baik kehilangan barang kesayangan, kehilangan uang, maupun kehilangan sanak keluarga yang sangat Anda sayangi. Rasanya pasti sedih dan sakit di hati. Rasa penyesalan kemudian dapat muncul pula mengiringi proses kehilangan tersebut. Wajar dan manusiawi adanya.


Akan tetapi, penyesalan dan kesedihan yang semacam itu tidak akan berlangsung lama bagi orang yang ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak ikhlas, penyesalan dan kesedihannya akan berlarut-larut tak tentu waktu.


Begitulah kenyataannya. Seberapa dalam kita bersedih dan seberapa lama kita menyesal bisa menjadi salah satu tolok ukur tingkat keikhlasan kita atas hal/peristiwa buruk yang menimpa kita tersebut. Makin besakeikhlasan kita, makin cepat pula kita pulih dari kesedihan dan penyesalan. Demikian sebaliknya. Makin kecil keikhlasan yang kita miliki, makin lama juga kita sanggup pulih dari keterpurukan.


Kalau ada orang yang sama sekali tak merasakan kesedihan atas kehilangan yang barusan menimpanya, bukan berarti dia sangat ikhlas Iho. Kesedihan dan penyesalan merupakan rasa yang wajar menyergap

bilamana hal/peristiwa buruk menimpa kita. Jadi, kalaua ada orang yang sama sekali tak merasakan kesedihan dan penyesalan di saat-saat seperti itu, justru perlu dipertanyakan kondisi emosionalnya; apakah emosinya masih normal ataukah tidak? 

Tidak ada komentar