IKHLAS adalah sebuah "kata" yang sungguh gampang diucapkan/dilisankan, tetapi sungguh sulit dilakukan. Iya, sungguh sulit. Benar-benar sulit sebab adakalanya di awal kita sudah merasa ikhlas, sudah betul-betul ikhlas lillahi ta'ala dalam melakukan sesuatu, ehhh... tahu-tahunya kita sudah menjadi tidak ikhlas lagi gara-gara kelancangan lisan kita sendiri.

 

Mari kita ingat-ingat sejenak. Pernahkah suatu ketika kita, Anda sekalian dan saya sendiri, berbuat yang demikian itu?

 

Misalnya ada seorang tetangga yang sedang kesusahan. Anaknya harus opname di rumah sakit.

sementara ketika si anak telah boleh pulang, si tetangga justru tidak mempunyai cukup uang untuk melunasi biaya opname dan pengobatannya.

 

Mengetahui kondisi tersebut, ketika si tetangga mendatangi kita untuk meminjam uang, kita yang merasa iba memutuskan untuk menyerahkan uang yang sedianya akan kita pergunakan untuk modal usaha. Pertimbangan kita, tak mengapa kita tertunda sebentar untuk memulai bisnis. Yang lebih urgen saat itu adalah menolong pembiayaan orang sakit agar bisa pulang kerumah. Kita betul-betul ikhlas karena Allah ta'ala pada waktu itu. Menolong hanya karena ingin memperoleh ridho-Nya semata.

 

Eh, lha kok beberapa waktu kemudian, dalam kurun waktu yang relatif lama, uang kita yang dipinjam tak kunjung dikembalikan. Sementara keuangan kita sudah menipis dan merasa sudah tiba saatnya untuk memulai bisnis yang sempat tertunda sebab modal usahanya (maksudnya uangnya) kita pinjamkan, kita pun mengingatkan plus menagih hutang pada tetangga yang dahulu meminjamnya. Harapan kita, bila sudah dilunasi kita akan dapat segera memulai sebuah bisnis untuk mempertebal keuangan kita.

 

Namun tak dinyana, hasilnya mengecewakan. Sikap si tetangga yang kita tagih mengecewakan. Dia bilang belum punya uang untuk membayar hutang dengan nada santai, ringan, dan terkesan acuh tak acuh. Nah, di titik inilah kita mesti berhati-hati. Jangan sampai rasa kecewa kita menghapuskan pahala keikhlasan yang dahulu telah kita semaikan benihnya. Begitu kita yang kecewa ngedumel, apalagi kalau sampai "curhat" kepada orang lain soal tersebut dengan penuh nada emosional, misalnya dengan mengatakan, "Orang enggak tahu diuntung. Saya tuh sudah ikhlas nolongin dia pas kekurangan biaya untuk bayar rumah sakit. Ehhh, giliran hutangnya ditagih malah seenaknya saja. Enteng saja bilangbelum punya uang buat melunasi hutang. Padahal uang itu sangat saya butuhkan untuk modal usaha, cari penghasilan. Orang sudah ikhlas nolong kok malah balasannya diperlakukan seperti gini…”

 

Hmmmm, hati-hati. Begitu Anda mengeluh/mengatakan sepertitu dalam waktu sekejap pahala keikhlasan Anda bisa lenyap tak berbekaIho. lya, betul. Begitu Anda bilang "aku ikhlas", justru di saat bersamaan kadar keikhlasan Anda sebenarnya telah terkurangi. Sayang banget kan kalua demikian kejadiannya?

 

Maka sebaiknya berhati-hatilah. Jangan sampai terkecoh pada sikap dan perkataan seseorang. Kita sendiri pun jangan sampai terkecoh padbisikan setan yang terkutuk untuk "memamerkan" keikhlasan yang kita rasakan. Bila ada seseorang yang berkali-kali bilang (di depan khalayak ramai pula) “Sudahlah, enggak apa-apa. Aku ikhlas kok, beneran ikhlasPokoknya ikhlas"; maka perlu dipertanyakan lho kadar keikhlasannya. Idemditto dengan diri kita sendiri. Jika kita melakukan hal yang sama, maka nilai keikhlasan kita juga perlu dipertanyakan.

 

Sebagai contoh lain adalah kejadian seperti berikut ini. Seseoranatau mungkin kita sendiri mengatakan, "Duuuh, kok dia ternyata begiitu ya? Orangnya tidak tahu membalas budi. Dulu aku sudah pernah menolongnya. Mengantarnya menyelesaikan urusannya seharian penuhSampai-sampai aku bolos kerja yang berarti gajiku dipotong seharian gara-gara antar dia ke sana kemari. Eh, kenapa sekarang dia tidak mau membantuku? Kok tidak mau diajak gantian sih? Pas kuajak ngomontentang masalahku saja kelihatan enggak ikhlas dalam menanggapi. Kayak buru-buru mau pergi. Padahal, dulu aku menolongnya dengan ikhlas Iho..."

 

Sikap dan perkataan serupa inilah yang justru mengindikasikan bahwa seseorang tersebut sebenarnya tidak/kurang memiliki keikhlasan. lya sih, bisa jadi dahulu ketika menolong dia betul-betul merasa ikhlas. Akan tetapi, sebab sudah diomong-omongkan, rasa keikhlasannya malah mendadak lenyap. Bisa menguap pula pahala atas keikhlasannya yang dahulu itu.

Nah, rugi sekali toh jadinya?

 

Oleh sebab itu, berhati-hatilah bicara soal ikhlas. Keikhlasan yang kita rasakan mestinya tidak kita kita omong-omongkan ke orang banyak; bahkan juga ke orang yang sedikit. Meskipun sudah habisan-habisan dalam bersedekah ataupun berkorban tenaga, waktu, dan pikiran dalam

melakukan amal perbuatan baik; tanpa adanya keikhlasan niscaya sebesar apa pun amal perbuatan yang kita lakukan akan sia-sia belaka di mata Allah ta'ala. Rugi sekali kan jatuh-jatuhnya? Pahala tidak kita dapatkan, tapi kita sudah kehilangan banyak hal.

 

Maka sekali lagi, sungguh rugi bila kita bila sampai tidak memiliki rasa ikhlas. Paling banter kita hanya akan memperoleh pujian dari sesama manusia. Ya, itu saja. Allah SWT tidak akan memperhitungkan pahalanya bagi kita. 

 

Kelihatannya sangat tepat kalau ikhlas diibaratkan orang yang buang air besar alias berak. Mohon maaf nih, perumpamaannya terkesan jorok. Tapi memang benar. Mari kita ingat-ingat bersama. Di saat kita berak, apakah setelahnya kita masih suka mengungkit-ungkit atau mempermasalahkan berak yang telah kita keluarkan dari tubuh kita itu? Tentu tidak toh? Kita cenderung melupakannya begitu saja. Yang kita perhatikan setelah buang air besar hanyalah perasaan lega yang luar biasa. Beraknya sendiri tak pernah kita omong-omongkan lagi. lya 'kan?

 

Demikianlah adanya. "Ikhlas" merupakan sebuah kata sifat yang teramat mudah untuk diucapkan, tetapi sulit diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya relatif mudah bagi kita untuk menghafalkan sederet makna dan definisi tentang ikhlas daripada langsung mempraktekkannya. Apa boleh buat? Menjaga konsistensi hati untuk selalu ikhlas memangbukan perkara gampang. Butuh upaya keras dan sebentuk perjuangan.

 

Selain itu, kita sungguh tak dapat menerka sebesar apa kadar keikhlasan seseorang. Bahkan sejauh mana keikhlasan hati kita sendiri pun, kita tidak tahu. Sebab terkait langsung dengan hati, tak ayal lagi hanya Allah SWT yang mengetahui kadar keikhlasan kita yang sebenarnya.

 

Begitulah. Hanya Allah SWT yang mengetahui kadar keikhlasaan. Namun, indikasi keikhlasan seseorang dapat dilihat dari tutur kata serta gerak-gerik perilakunya yang selalu tenang dan damai. Orang yang ikhlas pun akan terlihat tangguh sebab ia telah memiliki kekuatan yang besar, yakni kekuatan yang bersumber dari kepercayaan total kepada-Nya.

 

Baarokallah..

 

Ikhlas Itu Tak Terkatakan

IKHLAS adalah sebuah "kata" yang sungguh gampang diucapkan/dilisankan, tetapi sungguh sulit dilakukan. Iya, sungguh sulit. Benar-benar sulit sebab adakalanya di awal kita sudah merasa ikhlas, sudah betul-betul ikhlas lillahi ta'ala dalam melakukan sesuatu, ehhh... tahu-tahunya kita sudah menjadi tidak ikhlas lagi gara-gara kelancangan lisan kita sendiri.

 

Mari kita ingat-ingat sejenak. Pernahkah suatu ketika kita, Anda sekalian dan saya sendiri, berbuat yang demikian itu?

 

Misalnya ada seorang tetangga yang sedang kesusahan. Anaknya harus opname di rumah sakit.

sementara ketika si anak telah boleh pulang, si tetangga justru tidak mempunyai cukup uang untuk melunasi biaya opname dan pengobatannya.

 

Mengetahui kondisi tersebut, ketika si tetangga mendatangi kita untuk meminjam uang, kita yang merasa iba memutuskan untuk menyerahkan uang yang sedianya akan kita pergunakan untuk modal usaha. Pertimbangan kita, tak mengapa kita tertunda sebentar untuk memulai bisnis. Yang lebih urgen saat itu adalah menolong pembiayaan orang sakit agar bisa pulang kerumah. Kita betul-betul ikhlas karena Allah ta'ala pada waktu itu. Menolong hanya karena ingin memperoleh ridho-Nya semata.

 

Eh, lha kok beberapa waktu kemudian, dalam kurun waktu yang relatif lama, uang kita yang dipinjam tak kunjung dikembalikan. Sementara keuangan kita sudah menipis dan merasa sudah tiba saatnya untuk memulai bisnis yang sempat tertunda sebab modal usahanya (maksudnya uangnya) kita pinjamkan, kita pun mengingatkan plus menagih hutang pada tetangga yang dahulu meminjamnya. Harapan kita, bila sudah dilunasi kita akan dapat segera memulai sebuah bisnis untuk mempertebal keuangan kita.

 

Namun tak dinyana, hasilnya mengecewakan. Sikap si tetangga yang kita tagih mengecewakan. Dia bilang belum punya uang untuk membayar hutang dengan nada santai, ringan, dan terkesan acuh tak acuh. Nah, di titik inilah kita mesti berhati-hati. Jangan sampai rasa kecewa kita menghapuskan pahala keikhlasan yang dahulu telah kita semaikan benihnya. Begitu kita yang kecewa ngedumel, apalagi kalau sampai "curhat" kepada orang lain soal tersebut dengan penuh nada emosional, misalnya dengan mengatakan, "Orang enggak tahu diuntung. Saya tuh sudah ikhlas nolongin dia pas kekurangan biaya untuk bayar rumah sakit. Ehhh, giliran hutangnya ditagih malah seenaknya saja. Enteng saja bilangbelum punya uang buat melunasi hutang. Padahal uang itu sangat saya butuhkan untuk modal usaha, cari penghasilan. Orang sudah ikhlas nolong kok malah balasannya diperlakukan seperti gini…”

 

Hmmmm, hati-hati. Begitu Anda mengeluh/mengatakan sepertitu dalam waktu sekejap pahala keikhlasan Anda bisa lenyap tak berbekaIho. lya, betul. Begitu Anda bilang "aku ikhlas", justru di saat bersamaan kadar keikhlasan Anda sebenarnya telah terkurangi. Sayang banget kan kalua demikian kejadiannya?

 

Maka sebaiknya berhati-hatilah. Jangan sampai terkecoh pada sikap dan perkataan seseorang. Kita sendiri pun jangan sampai terkecoh padbisikan setan yang terkutuk untuk "memamerkan" keikhlasan yang kita rasakan. Bila ada seseorang yang berkali-kali bilang (di depan khalayak ramai pula) “Sudahlah, enggak apa-apa. Aku ikhlas kok, beneran ikhlasPokoknya ikhlas"; maka perlu dipertanyakan lho kadar keikhlasannya. Idemditto dengan diri kita sendiri. Jika kita melakukan hal yang sama, maka nilai keikhlasan kita juga perlu dipertanyakan.

 

Sebagai contoh lain adalah kejadian seperti berikut ini. Seseoranatau mungkin kita sendiri mengatakan, "Duuuh, kok dia ternyata begiitu ya? Orangnya tidak tahu membalas budi. Dulu aku sudah pernah menolongnya. Mengantarnya menyelesaikan urusannya seharian penuhSampai-sampai aku bolos kerja yang berarti gajiku dipotong seharian gara-gara antar dia ke sana kemari. Eh, kenapa sekarang dia tidak mau membantuku? Kok tidak mau diajak gantian sih? Pas kuajak ngomontentang masalahku saja kelihatan enggak ikhlas dalam menanggapi. Kayak buru-buru mau pergi. Padahal, dulu aku menolongnya dengan ikhlas Iho..."

 

Sikap dan perkataan serupa inilah yang justru mengindikasikan bahwa seseorang tersebut sebenarnya tidak/kurang memiliki keikhlasan. lya sih, bisa jadi dahulu ketika menolong dia betul-betul merasa ikhlas. Akan tetapi, sebab sudah diomong-omongkan, rasa keikhlasannya malah mendadak lenyap. Bisa menguap pula pahala atas keikhlasannya yang dahulu itu.

Nah, rugi sekali toh jadinya?

 

Oleh sebab itu, berhati-hatilah bicara soal ikhlas. Keikhlasan yang kita rasakan mestinya tidak kita kita omong-omongkan ke orang banyak; bahkan juga ke orang yang sedikit. Meskipun sudah habisan-habisan dalam bersedekah ataupun berkorban tenaga, waktu, dan pikiran dalam

melakukan amal perbuatan baik; tanpa adanya keikhlasan niscaya sebesar apa pun amal perbuatan yang kita lakukan akan sia-sia belaka di mata Allah ta'ala. Rugi sekali kan jatuh-jatuhnya? Pahala tidak kita dapatkan, tapi kita sudah kehilangan banyak hal.

 

Maka sekali lagi, sungguh rugi bila kita bila sampai tidak memiliki rasa ikhlas. Paling banter kita hanya akan memperoleh pujian dari sesama manusia. Ya, itu saja. Allah SWT tidak akan memperhitungkan pahalanya bagi kita. 

 

Kelihatannya sangat tepat kalau ikhlas diibaratkan orang yang buang air besar alias berak. Mohon maaf nih, perumpamaannya terkesan jorok. Tapi memang benar. Mari kita ingat-ingat bersama. Di saat kita berak, apakah setelahnya kita masih suka mengungkit-ungkit atau mempermasalahkan berak yang telah kita keluarkan dari tubuh kita itu? Tentu tidak toh? Kita cenderung melupakannya begitu saja. Yang kita perhatikan setelah buang air besar hanyalah perasaan lega yang luar biasa. Beraknya sendiri tak pernah kita omong-omongkan lagi. lya 'kan?

 

Demikianlah adanya. "Ikhlas" merupakan sebuah kata sifat yang teramat mudah untuk diucapkan, tetapi sulit diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya relatif mudah bagi kita untuk menghafalkan sederet makna dan definisi tentang ikhlas daripada langsung mempraktekkannya. Apa boleh buat? Menjaga konsistensi hati untuk selalu ikhlas memangbukan perkara gampang. Butuh upaya keras dan sebentuk perjuangan.

 

Selain itu, kita sungguh tak dapat menerka sebesar apa kadar keikhlasan seseorang. Bahkan sejauh mana keikhlasan hati kita sendiri pun, kita tidak tahu. Sebab terkait langsung dengan hati, tak ayal lagi hanya Allah SWT yang mengetahui kadar keikhlasan kita yang sebenarnya.

 

Begitulah. Hanya Allah SWT yang mengetahui kadar keikhlasaan. Namun, indikasi keikhlasan seseorang dapat dilihat dari tutur kata serta gerak-gerik perilakunya yang selalu tenang dan damai. Orang yang ikhlas pun akan terlihat tangguh sebab ia telah memiliki kekuatan yang besar, yakni kekuatan yang bersumber dari kepercayaan total kepada-Nya.

 

Baarokallah..

 

1 komentar:

  1. Baarokallah, atas pencerahannya Pak Ustad.
    Insya Allah dengan ikhlas semuanya akan menjadi lebih baik.

    BalasHapus