Pengertian Ikhlas

APA yang dimaksud dengan ikhlas? Definisi ikhlas yang tepat itu apa? Mungkin kebanyakan dari kita masih mempertanyakan makna ikhlas, tetapi tak kunjung menemukan jawaban tepatnya. Memang seperti itulah adanya. Kita mesti berhati-hati dalam memaknai dan mendefinisikan “ikhlas”. Jangan sampai gegabah dan serampangan.

 

Bahkan, ketika seorang Sahabat mempertanyakan makna ikhlas, Rasulullah SAW pun tak serta-merta menjawabnya. Rasulullah SAW berdiam diri sejenak. Setelah berdiam sejenak, beliau SAW kemudian memusatkan perhatian dan justru menyampaikan pertanyaan serupa

kepada Malaikat Jibril AS.

 

Malaikat Jibril AS itulah yang kemudian menanyakannya kepada Allah ta’ala tentang makna ikhlas yang sebenarnya. Allah SWT pun menjawab pertanyaan tersebut dengan berfirman, “Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.”

 

Subhanallah. Ternyata ikhlas itu memang dahsyat dan berat. Jika penggambaran ikhlas adalah sebagaimana yang disampaikan Allah SWT melalui Jibril, berarti sangat banyak di antara kita (manusia) yang tidak memiliki sifat ikhlas. Simaklah. Bukankah dinyatakan bahwa hanya hamba-hamba yang dicintai Allah SWT saja yang dapat memiliki rasa ikhlas? Berarti hanya hamba-hamba pilihan? Jadi, kalau kita ingin menjadi hamba-Nya yang ikhlas (mukhlish), kita mesti berusaha keras dulu agar bisa masuk kriteria dicintai-Nya.

 

Sejujurnya memang sulit untuk menghadirkan rasa ikhlas yang sebetul-betulnya ikhlas di hati kita. Ikhlas itu sesuatu yang diniatkan semata-mata karena Allah ta’ala, sungguh-sungguh lillahi ta’ala. Padahal kita sebagai manusia, acap kali terlena dan tergoda oleh hal-hal di luar Allah SWT.

 

Maka Rasulullah SAW kemudian memberi jaminan kepada umatnya yang berhasil memiliki sifat terhormat tersebut. Beliau SAW menyatakan bahwa bagi orang yang ikhlas, “belenggu” apa pun tak akan berhasil menguasai hatinya. Pendek kata bagi seorang yang ikhlas, apa-apa yang dilakukannya semata-mata didasarkan pada ketaatannya kepada Allah SWT. Bukan supaya dipuji dan disegani oleh sesama manusia. Bahkan, sekalipun dicerca habis-habisan oleh sesama manusia, keikhlasannya tetap tak berkurang. Sebab segala perbuatannya sudah diniatkan semata-mata hanya demi Allah ta’ala, semua hal yang berpotensi mereduksi keikhlasannya akan sanggup ditaklukkannya. Dengan kata lain, dianggap sebagai hal sepele yang sama sekali tak penting.

 

Yang namanya ikhlas itu terletak di hati. Jadi, tidak akan tampak oleh siapa pun kecuali oleh Allah SWT. Lagi pula, orang yang melakukan sesuatu secara ikhlas tidak akan mungkin ngomongin sesuatu yang dilakukannya itu kepada orang-orang lain. Dia pasti takut kalau kadar keikhlasannya justru akan berkurang gara-gara perbuatan itu.

 

Ikhlas adalah melakukan sebuah amalan, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan yang hanya ditujukan untuk Allah semata. Al-Qur’an pun memerintahkan kita untuk senantiasa ikhlas, “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas…” (Q.S. Yunus: 105).

 

Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridho Allah semata” (H.R. Abu Dawud dan Nasa’i).

 

Sementara itu, Ali RA berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah.”

 

Menurut Imamal-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat ikhlas, maka ia akan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukannya semata-mata diniatkan untuk Allah ta’ala meskipun yang terlihat secara langsung adalah dia melakukan suatu perbuatan untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. lya, dia akan selalu membantu orang dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Dia hanya akan bekerja (melakukan sesuatu) kalau Allah SWT yang menjadi tujuannya. Oleh sebab itu, orang yang ikhlas (mukhlish) akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.”

 

Begitulah sosok orang yang ikhlas. Dia akan betul-betul menjaga hatinya dari sifat pamer. Tidak akan pernah dia bersedekah dalam jumlah banyak dengan niat ingin dianggap sebagai orang yang kaya raya. Kalau bersedekah dia akan melakukannya secara diam-diam, sebisa mungkin hanya dia dan Allah ta’ala yang tahu. Tidak akan pernah pula dia sukamembantu orang lain dengan niat untuk memperoleh pujian atau supaya dianggap eksis oleh orang-orang di sekitarnya.

 

Ikhlas memang merupakan sesuatu yang tidak kasat mata. Tapi indikasinya bisa dilihat pada perilaku dan perangai orang yang bersangkutan (maksudnya orang yang memiliki sifat ikhlas itu). Kalau begitu, seperti apakah ciri-ciri orang yang ikhlas?

 

Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: Ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasehat yang tulus kepada seorang penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakatMuslim.”

 

Seorang ulama lainnya, yakni Sufyan ats-Tsauri, pernah mengatakan, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

 

Kenyataannya memang demikian. Niat untuk ikhlas merupakan hal yang sulit untuk “dieksekusi”. Apa penyebabnya? Yeah, apa lagi kalau bukan karena seringnya hati kita berbolak-balik. Kali ini bisa dengan mudahnya merasakan ikhlas, di lain waktu mendadak terasa sulit sekali untuk merasakan keikhlasan. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang wajib ada di dalam setiap amalan kebaikan yang kita lakukan. Tanpa hadirnya rasa ikhlas, akan sia-sia sajalah amalankebaikan yang kita lakukan itu.

 

Sekali lagi, sifat ikhlas ini sejujurnya terasa berat untuk dijadikansebagai pola hidup seseorang, Bolehlah dibilang butuh ilmu penguasaan tingkat tinggi. Karena terlalu beratnya, sampai-sampai Abu Ya’qub as-Susi mengatakan sebagai berikut, Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan Jagi.”

 

Benar ‘kan? Betapa “riskannya” sebuah rasa yang bernama ikhlas, keikhlasan itu. Meleng sedikit saja, sudah tidak bisa disebut ikhlas. Terlebih lagi, setan pastinya tak akan rela membiarkan seorang manusia sukses meraih ikhlas. Dengan kata lain, setan pasti akan senantiasa menggoda-goda dan merusak amalan baik seseorang dengan cara mereduksi rasa

keikhlasannya. Misalnya dengan cara riya’ dan mengungkit-ungkit amalan kebaikan yang telah dilakukannya.

 

Namun, Anda sekalian tidak perlu merasa khawatir ataupun bingung. Sekalipun sulit untuk dijadikan sebagai pola hidup sehari-hari, bukan berarti kita tidak dapat meraih keikhlasan. Mari berpegangan saja pada fatwa Syeikh Abul Hasan as-Syadzili, “Ikhlas merupakan nur dari nur Allah SWT yang dititipkan Allah dalam hati hamba-Nya yang beriman, lalu Allah memotong dengan nur itu dari yang selain-Nya.”

 

Ya, itulah prinsip ikhlas. Adapun untuk dapat dititipi nur Allah tersebut, kita harus terlebih dulu menjadi orang yang dicintai-Nya. Anda sekalian pasti sudah mafhum dengan cara-cara yang mesti ditempuh agar kita bisadicintai-Nya.

 

Selanjutnya, ikhlas itu pun bercabang menjadi empat kehendak. Keempatnya adalah :

1. Kehendak ikhlas dalam beramal untuk mengagungkan Allah SWT;

2. Kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah SWT;

3. Kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala.

4. Kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihalau, selain tindakan tersebut.

 

Semua kehendak tersebut mestinya kita lakukan. Mengapa mesti demikian? Sebab barang siapa berpegang pada salah satu dari empat kategori di atas, ia disebut orang yang ikhlas (mukhlish) yang mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Sebagaimana fiman-Nya, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.”

 

Seorang yang mukhlish memiliki daya keikhlasan yang tinggi. Dia akan ikhlas bersama-Nya dan ikhlas bagi-Nya. Dalam hal ini keikhlasan terbagi ke dalam dua kategori, yaitu (1) Ikhlasnya kaum ““Shadiqin” dan (2) Ikhlasnya kaum “Shiddiqin”.

 

Ikhlasnya kaum Shadiqin semata-mata untuk mendapatkan balasan dan pahala; sedangkan ikhlasnya kaum Shiddiqin, semata-mata untuk memandang Wujud Al-Haq, sebagai tujuan, bukan tertuju pada sesuatu di sisi-Nya.Maka barang siapa hatinya disinggahi oleh rasa ikhlas yang serupa itu, dia termasuk ke dalam golongan orang yang dikecualikan dari ucapan musuh-Nya, sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman Allah berikut ini, “..dan pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas” (Q.S. al-Hijr: 39-40).

 

Baarokallah..